Langsung ke konten utama

Proses Kreatifku Saat Menulis Cerita

Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia! Kamu bisa temukan aku di instagram @AngelNumbrr. Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3

Hari ini kita akan membahas mengenai proses kreatifku saat menulis. Proses kreatif saat menulis itu tidak selamanya fokus menulis, loh. Untuk aku sendiri prosesnya bisa saat brainstorming, scroll tiktok untuk prompt, pinterest. Banyak hal, deh yang berkontribusi ke dalam tulisanku. Oleh karena itu, kita akan bahas proses kreatifku saat menulis.

Kita mulai dari bagaimana aku mendapatkan ide. Tentu saja ide tidak jatuh dari langit dan langsung berubah menjadi sebuah cerita utuh yang tinggal tuang saja. No no. Ide itu biasanya datang dari banyak sumber. Untukku sendiri ide biasanya datang dari mimpi, obrolan stimulating, pengalaman pribadi, baca buku, ada juga yang berasal dari pengalaman teman atau karena inspirasi dari karakter mereka. Bagaimana dengan kamu?

Apa yang kamu lakukan setelah ide itu muncul? Aku sendiri biasanya langsung aku tulis di notes karena aku pelupa. Idenya kubuat jadi sebuah premis sebelum bikin outlinesnya. Biasanya sih disimpan dulu karena aku masih berusaha untuk menyelesaikan Harmony in Disguise. Tolong doanya ya. :D

Dalam ide yang sudah aku tulis dan simpan itu, biasanya dalam bentuk premis tentu sudah ada karakter yang aku pikirkan. Secara khusus aku membayangkan mereka sebagai manusia yang nyata. Misalnya Annalise, karakter utamaku di Harmony in Disguise itu aku bayangkan punya wajah campuran khas dengan tinggi bak model, rambut hitam panjangnya dengan senyum khas—senyum yang dilatih bertahun-tahun. 

Dia bergerak. Di dalam pikirkanku setidaknya dia bergerak. Aku bentuk dia dari orang-orang yang pernah aku temui dalam hal sifat mereka. Tapi khusus untuk Annalise, dia muncul setelah aku tahu kalau aku ingin menulis soal pianist muda professional. Namanya juga langsung tertanam di otakku, berbeda dengan Rafael—love interestnya yang beberapa kali harus aku cari namanya karena belum kedengaran 'benar' di telingaku sebagai nama atlet renang nasional. Bagiku, begitulah dasar menciptakan karakter. Lalu mengembangkannya dari ide mereka, tujuan mereka dalam hidup, kekuatan, dan kelemahan mereka.

Walaupun sudah menulis sampai karakter, kadang aku masih bertemu dengan musuh abadi para writer. Writer's block. *crashout*

Caraku menghadapi Writer's block atau rasa malas dalam diriku saat menulis itu adalah menggunakan timer 5 menit lalu menulis. Apapun itu yang ada, aku tulis saja dalam pikiran. Revisi bisa nanti. Dituangkan dulu. Selama ini, it works for me. Tapi kalau belum juga berarti aku butuh suasana baru. Either scrolling tiktok dan cari mengenai karakter-karakterku, atau buka pinterest. 3 cara itu jadi cara ampuh untuk mengembalikan mood dan streak menulisku.

Selama menulis, suasana favoritku itu saat pagi. Biasanya aku menulis menggunakan ponsel. Jauh lebih mudah di bawa, enak untuk menulis. Kadang menggunakan laptop, tapi feelsnya beda. Untuk menulis Harmony in Disguise aku siapkan 2 playlist milik karakter Annalise dan Rafael karena cerita itu walaupun ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, tapi terbatas dari sudut pandang karakternya juga. Ada bagian yang didekasikan khusus dari sudut Annalise, di situ aku mendengarkan playlist miliknya. Begitu juga dengan Rafael.

Setelah penulisan itu, aku menekan publish. Serius. Karena setelah publish aku bisa minta pendapat orang lain. Membaca sendiri simply won't point out dimana yang feelsnya terasa beda, tapi ada saat tertentu aku edit sendiri setelah baca—misalnya bab bab lama setelah aku publish bab baru. Entah karena 'plot hole' atau adegan yang menurutku tidak terlalu penting dalam menggerakan cerita. 

Salah satu plot hole yang aku temukan di Harmony in Disguise itu waktu belajar Annalise. Berbeda dengan Rafael yang hanya butuh 3 tahun SMA dengan kurikulum IB, Annalise butuh 4 tahun sesuai dengan kurikulum Cambridge. Oleh karena itu aku sering membaca ulang bab lama setelah mempublish bab baru, memastikan keterkaitan antara mereka dan logisnya cerita.

Nah, itu semua adalah proses kreatifku dalam menulis. Bagaimana dengan kamu? Aku penasaran. Pastikan kamu membagikan artikel ini jika kamu merasa bahwa apa yang ada di dalamnya berguna untuk dirimu, dan oranglain. God Bless you!

Au Revoir!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf, aku salah.

Kesalahan dan mengapa kamu membutuhkannya. Sebelum memulai tulisan ini, izinkan aku memperkenalkan diri. Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia ! Kamu bisa temukan aku di instagram @ AngelNumbrr . Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3 Banyak sekali hal yang terjadi selama ini. Aku bersyukur karena akhirnya punya kesempatan menulis walaupun lebih tepatnya aku punya cukup motivasi, keberanian dan secangkir rasa percaya diri untuk menulis lagi. Kali ini aku ingin sekali membahas tentang kesalahanku selama ini, dan ingin meminta maaf akan hal tersebut walaupun tidak akan kutulis secara spesifik. Ini tentang yang namanya kesalahan yang biasanya dibarengi dengan rasa bersalah (guilt). Kesalahan itu sebuah hal wajar bagi umat manusia. Yang tidak wajar adalah untuk tidak mempelajarinya dan mengulanginya terus menerus seperti kaset rusak. Membuat orang lain muak, tentu saja, tapi lebih berdampak pada diri ...

Rutinitas Belajar Menyenangkan Versi Aku

Kamu pernah stress belajar? Aku pernah. Maka lahirlah rutinitas belajarku untuk memudahkan aku agar tetap disiplin dalam belajar. Mau tahu? Simak lebih lanjut di bawah ya. Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia! Kamu bisa temukan aku di instagram @AngelNumbrr. Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3 Aku paling susah dengan yang namanya disiplin. Bukan berarti aku hanya ingin stuck di tempat dan tidak melakukan apapun.  Untuk mencapai apa yang aku inginkan, aku sadar bahwa disiplin dan konsisten itu penting. Oleh karena itu aku berusaha membuat sebuah rutinitas yang bekerja untukku. Rutinitas ini dapat bekerja dengan baik karena aku buat berdasarkan jumlah energiku, aku mengenal diriku sendiri dengan baik sehingga tahu kapan energiku paling banyak ada. Lalu waktu yang aku pilih mendukung belajarku. Ayo kita bedah rutinitas belajarku bersama-sama langkah demi langkah! Biasanya aku bangun sekitar ja...