Langsung ke konten utama

Maaf, aku salah.

Kesalahan dan mengapa kamu membutuhkannya.

Sebelum memulai tulisan ini, izinkan aku memperkenalkan diri. Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia! Kamu bisa temukan aku di instagram @AngelNumbrr. Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3

Banyak sekali hal yang terjadi selama ini. Aku bersyukur karena akhirnya punya kesempatan menulis walaupun lebih tepatnya aku punya cukup motivasi, keberanian dan secangkir rasa percaya diri untuk menulis lagi. Kali ini aku ingin sekali membahas tentang kesalahanku selama ini, dan ingin meminta maaf akan hal tersebut walaupun tidak akan kutulis secara spesifik. Ini tentang yang namanya kesalahan yang biasanya dibarengi dengan rasa bersalah (guilt).


Kesalahan itu sebuah hal wajar bagi umat manusia. Yang tidak wajar adalah untuk tidak mempelajarinya dan mengulanginya terus menerus seperti kaset rusak. Membuat orang lain muak, tentu saja, tapi lebih berdampak pada diri sendiri. Bukankah kamu merasa bersalah?


Ketika orang tersayang menanyakan sesuatu padamu, dan kamu menjawabnya dengan ketus, mengatakan bahwa "nanti dulu! Aku sibuk!" Kemudian tidak ada waktu yang benar-benar tepat untuk melakukan itu. Banyak sekali alasannya. Sudah tidak ada waktu, terlanjur menyakiti hati, juga ada yang benar-benar sudah pergi terlalu jauh untuk digapai.


Aku minta maaf.


Seberapa sering kamu mengucapkan itu? Apa cukup sering untuk orang terdekatmu bosan dan muak? Cukup jarang untuk membuat mereka terkejut saat kamu melakukannya? Atau... kamu sama sekali tidak ingin dan tidak pernah mengatakannya?


Sebagai manusia yang diidentifikasi sebagai seorang Introvert (tepatnya aku INFJ), aku cukup pandai bersosialisasi. Di sekolah aku sangat bersemangat untuk mengobrol, berjalan ke sana kemari menemui manusia yang lain.... dan kemudian tiba-tiba saja baterai sosialku habis yang membuatku mendadak diam. Di saat itulah otakku ini bergerak dengan ugal-ugalan. Ribut. Sebuah peperangan, bahkan.


Di saat itulah aku mulai mengingat-ngingat kesalahanku. Terlalu banyak. Sebelum rasa bersalah itu mulai memakanku hidup-hidup dari dalam diriku sendiri. Terkadang, rasa bersalah itu terasa seperti parasit yang menumpang. Namun, karena rasa bersalah itu juga aku jadi belajar dari kesalahanku.


Dan terkadang kesalahan itu bukan selalu tentang kesalahan kamu kepada orang lain. Itu mungkin pada dirimu sendiri.


Ketika kamu melihat ke cermin dan berkata, "aku jelek." Apa kamu pikir itu bukan sebuah kesalahan? Secara langsung kamu mengatai dirimu sendiri dan berbuat salah kepadamu. Loh memangnya itu bisa disebut kesalahan jika dilakukan pada diri sendiri?


TENTU SAJA! Itu adalah kesalahan! Mengganggap sebuah kesalahan kecil dan mengabaikannya alih-alih memperbaikinya dapat menjadi sebuah permasalahan nantinya di masa depan. Kamu mulai menoleransi kesalahan orang lain terhadap orang lain dan juga terhadap kamu, dan itu bukan hal yang baik. Ini juga dapat perlahan membunuh rasa bersalahmu, karena kamu menoleransi kesalahan terhadap dirimu. Apalagi jika itu terjadi pada orang lain kan?


Bagaimana cara memperbaiki kesalahan?


1. Kenali bahwa itu adalah kesalahan.

Cara sederhana adalah memikirkan jika hal yang sama terjadi pada orang yang kamu sayang. Itu akan menyadarkan kamu. Seperti sebuah luka, jika kamu tidak tahu itu sebuah luka bagaimana kamu mau mengobatinya?

2. Menerima kesalahanmu.

Ya, terlihat sedikit aneh kan? Yang kumaksudkan di sini adalah sadar bahwa itu adalah sebuah kesalahan dan akui pada dirimu sendiri bahwa kamu yang melakukan kesalahannya. TAPI JANGAN SAMPAI BERLEBIHAN!

3. Mengakui kesalahanmu.

Akui kesalahanmu, kali ini bukan hanya dirimu sendiri tapi sudah pada tahap meminta maaf jika melakukan kesalahannya pada orang lain. "Aku minta maaf." Tiga kata saja lebih mudah jika kita siap untuk melepaskan. Tarik nafas dalam-dalam, menundukan kepala sedikit tidak perlu sampai menatap matanya terlalu dalam dan katakan kesalahanmu dan dengarkan baik-baik responnya.


Dengan mengetahui, menerima dan mengakui kesalahan kamu sendiri, kamu dapat belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut. NAMUN kamu juga harus ingat bahwa pernyataan maaf paling tulus adalah tidak melakukan hal yang sama lagi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rutinitas Belajar Menyenangkan Versi Aku

Kamu pernah stress belajar? Aku pernah. Maka lahirlah rutinitas belajarku untuk memudahkan aku agar tetap disiplin dalam belajar. Mau tahu? Simak lebih lanjut di bawah ya. Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia! Kamu bisa temukan aku di instagram @AngelNumbrr. Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3 Aku paling susah dengan yang namanya disiplin. Bukan berarti aku hanya ingin stuck di tempat dan tidak melakukan apapun.  Untuk mencapai apa yang aku inginkan, aku sadar bahwa disiplin dan konsisten itu penting. Oleh karena itu aku berusaha membuat sebuah rutinitas yang bekerja untukku. Rutinitas ini dapat bekerja dengan baik karena aku buat berdasarkan jumlah energiku, aku mengenal diriku sendiri dengan baik sehingga tahu kapan energiku paling banyak ada. Lalu waktu yang aku pilih mendukung belajarku. Ayo kita bedah rutinitas belajarku bersama-sama langkah demi langkah! Biasanya aku bangun sekitar ja...

Proses Kreatifku Saat Menulis Cerita

Salute, Minna-san! Salam kenal untuk yang sedang membaca ini, aku Tasya Carmelia! Kamu bisa temukan aku di instagram @AngelNumbrr. Kritik dan saran dalam segala bentuk akan sangat diapresiasi! Selamat membaca! <3 Hari ini kita akan membahas mengenai proses kreatifku saat menulis. Proses kreatif saat menulis itu tidak selamanya fokus menulis, loh. Untuk aku sendiri prosesnya bisa saat brainstorming, scroll tiktok untuk prompt, pinterest. Banyak hal, deh yang berkontribusi ke dalam tulisanku. Oleh karena itu, kita akan bahas proses kreatifku saat menulis. Kita mulai dari bagaimana aku mendapatkan ide. Tentu saja ide tidak jatuh dari langit dan langsung berubah menjadi sebuah cerita utuh yang tinggal tuang saja. No no. Ide itu biasanya datang dari banyak sumber. Untukku sendiri ide biasanya datang dari mimpi, obrolan stimulating, pengalaman pribadi, baca buku, ada juga yang berasal dari pengalaman teman atau karena inspirasi dari karakter mereka. Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu la...